Pages

value

Entah harus bagai mana lagi, aku sudah terlanjur kehilangan kepercayaan pada keluargaku.  Aku meras di keluargaku lebih mementingkan uang dari pada kebersamaan keluarga. Bukan matre tapi penghargaan lebih dipandang dari value yang ada. Dan bagi orang semacam diriku yang belum berpenghasilan yah di skip aja dari keluarga.  Beneran deh fenomna semacam ini banyak terjadi dan kadang tidak di sadari kalau rules ini sedang di alami.

Move on

Aku tidak tau bagaimana lagi cara untuk meningkatkan mood karena rasa bosan dan muak terus meningkat. Tapi aku lebih muak terhadap diriku yang stay di belakang garis start sambil memandangi orang-orang yang bergerak dengan progres mendekati garis finish. Sudah sejauh ini aku kuliah dan aku tidak mau berhenti dengan tidak menghasilkan apa-apa. I miss my pal very much, if she in here beside me meybe i feel calm. Tapi mau bagai mana lagi dia tidak mungkin menemaniku selamanya. Apa lagi ya yang bisa membuat aku lebih semangad lagi, god help me please, i need your power to make me move on

GEJE

Gak mungkin deh bisa tenang kalau kayak seperti ini bayangin aja kenapa coba gk bisa asehari aja gak nyari masalah bikin kesal saja ngomeeellll melulu mang dia tuh gak pusing apa ngomel terus gw heran deh ahahhahha gak penting banget dweh. gue kejakarta pengen dapat suport buat diet dan olah raga malah di omelin and di caci maki tiap hari bikin gak mood aja. memang keputusas ke jakarta memang sangat mengecewakan tidak sesuai keinginan, sebenarnya goblognya gue ya, dah tau keluarga gue selain mba chichie gak bisa di harapkan  dalam  hal suport tapi tetap aja gue merasa "kali ini beda" apanya yang beda, mkn beda tapi bukan ke arah positif tapi hal yang lebih negatif

I, My, Me, Mine

Hidup tanpa arah membuatku menciptakan arah sendiri. Arah yang selalu ku cari tidak semuanya arah yang benar dan tepat. Membentuk diriku menjadi haus akan banyak hal. Ingin tau ini, ingin tau itu, ingin tau banyak hal. Ingin, ingin, ingin tau banyak hal yang ada di dunia ini

JYP Entertainment

Park Jin-young founded the company in 1997 as "Tae-Hong Planning Corporation", which eventually became "JYP Entertainment" in 2001.
The studio and headquarters of its US branch, JYP USA, officially opened in New York City in June 2007.[1] In October 2008, JYP Entertainment further expanded by opening the JYP Beijing Center as their China branch. The same year, CAA (Creative Artists Agency) included JYP Entertainment in its roster of high profile clientele.[citation needed]
The company is considered one of the biggest management companies in South Korea, along with S.M. Entertainment and YG Entertainment.[2] In an interview, Park stated that the success of his artists is due to him creating a "brand" for the artist.[3] It has been reported that the group is worth in excess of $100 million.[3]
In June 2009, it was officially announced that JYP Entertainment and the Jonas Group signed a management deal for the Wonder Girls. Wonder Girls joined the Jonas Brothers' World Tour 2009, in selected cities, as the opening act performing their two songs "Nobody" and "Tell Me".[4]
In March 2010, KMP Holdings was established via a joint venture between JYP, S.M., YG, Star Empire, and other companies. KMP is the official distributor of releases from these companies. KMP stands for Korean Music Power.[5]
In December 2010, Park Jin-Young announced that J. Tune Entertainment would be merged with JYP Entertainment. Park Jin-Young (the contract with JYPE had expired in 2006) and miss A (managed by sub-label AQ Entertainment) signed the contract under J. Tune Entertainment.[6][7]
In 2011, JYP Entertainment partnered up with SM Entertainment, YG Entertainment, KeyEast, AMENT and Star J Entertainment to create United Asia Management in an effort to promote Korean pop music internationally.[8]

[edit] Locations

[edit] Current Artists

[edit] JYP Roster

Park Jin-young, a CEO and owner of JYP Entertainment, in 2009.

[edit] Big Hit Entertainment Roster

[edit] J. Tune Entertainment Roster

Rain, founder of J. Tune Entertainment, in 2011.

[edit] Former Artists

[edit] Former notable trainees

[edit] See also

ninja saga poenya

http://denny-xp.blogspot.com/2011/09/cheat-ninja-saga-token-permanen.html

intelegensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Inteligensi dan IQ

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.
Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.
Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Inteligensi dan Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.
Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.